By: Alan Mentari pagi menyapa 8 November, seakan menunjukkan dirinya adikuasa atas terik yang sebentar lagi menyambar kulit. Sementara suasana masih lengang menunjukkan pukul tujuh lewat setengah. Tidak biasanya kami berkumpul di mampang prapatan jam segitu. Biasanya sore, namun lebih banyak menghabiskan malam sampai subuh. Kajian keislaman diselingi kelakar dari seorang kakak yang sudah kami anggap sebagai guru. Dengan gaya duduknya yang khas serta tangannya yang tak bisa diam, kala ilmu terirtikasi, saat lietaratur mulai bertajalli dalam fakultas pikirannya. Sangat jarang kami menunduk karena android ketika suara itu mulai terdengar sembari melantukan dalil. Di perempatan itu, kami berempat, ditambah dua orang pendamping, namun khusus hari itu kami menyebut dua orang ini sebagai cadangan. Sebab mereka memang disiapkan untuk tinggal dirumah dan melaksanakan tugas-tugas yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak diikutsertakan. Tanpa toleransi, waktu semakin laju. Tiba-tiba seseorang...