By: Alan
Mentari pagi menyapa 8 November, seakan menunjukkan dirinya adikuasa atas terik yang sebentar lagi menyambar kulit. Sementara suasana masih lengang menunjukkan pukul tujuh lewat setengah. Tidak biasanya kami berkumpul di mampang prapatan jam segitu. Biasanya sore, namun lebih banyak menghabiskan malam sampai subuh.
Kajian keislaman diselingi kelakar dari seorang kakak yang sudah kami anggap sebagai guru. Dengan gaya duduknya yang khas serta tangannya yang tak bisa diam, kala ilmu terirtikasi, saat lietaratur mulai bertajalli dalam fakultas pikirannya. Sangat jarang kami menunduk karena android ketika suara itu mulai terdengar sembari melantukan dalil.
Di perempatan itu, kami berempat, ditambah dua orang pendamping, namun khusus hari itu kami menyebut dua orang ini sebagai cadangan. Sebab mereka memang disiapkan untuk tinggal dirumah dan melaksanakan tugas-tugas yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak diikutsertakan.
Tanpa toleransi, waktu semakin laju. Tiba-tiba seseorang datang, langsung mencium tangan Sang Nenek, sembari berkata: "Ada Maulid di Lullung Nek. Saya jemput kakak guru, kita berangkat sama-sama, ada mobil satu sudah siap"
Mendengar itu Kakak Guru merubah keputusannya dan berkata kepada cadangan: "Kalian berdua siap siap, kita berangkat" Padahal mereka sudah bersiap untuk melanjutkan mimpinya. Anehnya, gerakan mereka lebih cekatan ketimbang yang sudah siap dari awal. Tujuh orang dalam rombongan.
Perlahan kami melangkah, suara gesekan papan pun ikut berisik, itu bekas beban kaki. Semakin berat semakin besar pula ia menjerit. Dibawah sudah terdengar suara mobil pertanda saatnya untuk mejelajah. Sementara diatas rumah Sang Nenek tersenyum tersirat makna dan munajat do'a mengiringi rombongan para pencari berkah.
Rute mambu ke patulang menyita waktu satu jam lebih. Roda empat beradu dengan tanjakan dan turunan. Diatas ada kami yang asyik bercanda menikmati keindahan alam dari Luyo ke Tutar. Sesekali percakapan terhenti dikala ban mobil bertumpu keras di lubang berlumpur. Iya, jalan ke tutar sudah lama rusak dan belum mendapat perhatian.
Tiba di Patulang "Ok, kita berhenti disini, sebab mobil tidak bisa masuk" Kata anak muda panitia Maulid yang sering kami panggil Cekgu. Rupanya sudah ada tim penjemput empat sepeda motor. Namun itu kurang dan akan menyisakan tiga orang lagi. Sambil menunjuk arah, cekgu kembali berkata: "Sudah, nanti Kakak Guru terlambat, bahaya masyarakat sudah menunggu, silahkan berangkat, sisanya nanti menunggu"
Saya pada posisi menunggu ditemani Cekgu, si gondrong dan si bungsu yang jadi cadangan saat itu. Sudahlah, akhirnya kami bercengkrama dengan salah seorang jama'ah tarekat Qodiriyah juga pemilik bisnis coklat dan walet. Kami panggil beliau dengan nama A'ba. Tiga puluh, empat puluh menit berlalu tak kunjung datang jemputan. Kami mulai gelisah, salah satu di antara kami ingin kembali.
Sementara waktu menujukkan 10.50. Maulid sudah dimulai dua jam yang lalu. Hikmah pasti sudah menggelegar jam 11.00. Kami dapat jemputan pada jam yang sama, sementara jarak yang ditempuh penjemput kurang lebih 10 kilo, atau 40 menit. Artinya, sudah bisa dipastikan, kami terlambat. Hanya sisa-sia berkah yang akan kami dapatkan.
Apa yang terjadi, ternyata betul. Semua jama'ah Maulid di masjid keluar disaat kami baru tiba. Kudapati seorang teman terdiam, bibirnya setengah melempar senyum, matanya seketika sayup dengan kepala menunduk. Menghela nafas panjang dan mulai menghisap rokok, tidak lama wajahnya kembali sumringah. Sepertinya ia ingin mencipta pelipur lara dalam dirinya.
Sepulangnya dari Lullung, hujan lebat menghantam rombongan. Semua kocar-kacir mencari tempat berlindung. Basah kuyup tak terelakkan. Ada apa gerangan? Aku bertanya-tanya dalam hati. Seketika fikiranku menangkap gambar dan flashback ke belakang. Ternyata, sebelumnya teman ini, bukan hanya menampakkan wajahnya yang sedih. Namun juga kudapati mengadahkan tangannya. Seolah itu pertanda bahwa hujan ini ikut menghantam, karena do'a anak muda ini. Hahahahahaa....
Wallahu A'lam.
Komentar
Posting Komentar