Langsung ke konten utama

MASIHKAH KITA KARTINI?


By Muzdalifah Prasetya

Kalian tau tidak setiap tanggal 21 april diperingati hari apa? Yess betul sekali, setiap tanggal 21 april itu masyarakat indonesia khususnya kaum perempuan memperingati Hari kelahiran RA Kartini, atau sering kali kita dengar hari emansipasi wanita loh. 

Sejenak generasi Z banyak yang bertanya, apa itu Hari Kartini? Siapa itu Kartini? Kenapa setiap tahun kita peringati hari kelahirannya?Saya jelaskan sedikit ya... Raden Ajeng Kartini, perempuan asal Jepara, Jawa Timur ini lahir pada 21 April 1879. Kartini berasal dari kalangan bangsawan Jawa yang merupakan putri dari bupati Jepara bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan M.A. Ngasirah.

Tidak usah panjang lebar yah menuliskan biografi tentang Raden Ajeng Kartini ini, karena saya juga bukan pakar sejarah, Hehehhe. Jadi kalo kalian penasaran silahkan baca buku dan artikel artikel terkait tentang a biografinya.

Nah pada masa Pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Jadi, kali ini saya tidak akan menulis tentang Biografi R.A Kartini, Pemikiran-pemikirannya, buku yang sudah di tulis dan sisi lain dari Beliau karena itu sudah banyak yang bisa kita lihat dari berbagai buku dan artikel-artikel lainnya. 

Tapi kali ini saya akan menulis tentang apa yang harus dilakukan kaum milenial khususnya perempuan dalam menjadikan dirinya sebagai sosok perempuan yang tangguh, bermoral serta bermanfaat bagi orang disekitarnya, untuk itu jangan diskip yahh baca sampai akhir.

Di tahun-tahun sebelumnya seringkali kita jumpai perayaan perayaan yang menyambut hari lahir Kartini mulai dari kalangan ibu-ibu sampai dengan anak-anak turut serta merayakan hari kartini, dan bahkan disekolah-sekolah guru dan siswa merayakan hari Kartini biasanya mengenakan pakaian kebaya atau pakaian adat mereka, menggelar panggung seni dan ekspresi bertema "Kartini"

Namun berbeda dengan 2 tahun terakhir ini masyarakat Indonesia hanya bisa merayakan hari Kartini di Rumah saja karna masih berada dalam suasana Covid-19, tidak ada lagi pakaian kebaya dan baju adat terlihat disekolah, tidak ada lagi suara-suara seruan selamat hari Kartini yang menggelegar dilingkungan sekolah, semuanya sudah terlihat berbeda. 

Jadi? Dalam suasana seperti ini apa yang harus kita lakukan untuk memperingati hari Kartini? Cukupkah kita hanya membuat story memposting foto R.A Kartini lalu menuliskan caption Selamat Hari Kartini para Perempuan-perempuan tangguh, iyya cukup?  Ya tidaklah, tidak cukup sampai disitu!! mau tau caranya? Sini mari kita belajar sama-sama !!!

Menjadi perempuan di era Milenial banyak sekali tantangan yang harus kita lewati, mulai dari sosial, budaya, Pendidikan bahkan dari keluarga. Spesifik perempuan hari ini kebanyakan juga mengurung diri dirumah, tidak terlalu bersosial dan membangun masyarakatnya, lebih banyak korban pernikahan dini sehingga banyak kampung KB, tidak mencintai ilmu pengetahuan, masa bodoh dengan buku-buku, tidak peduli dengan orang sekitarnya yang lagi membutuhkan, sehingga waktunya dihabiskan Main Gedget, yang lebih parahnya kebanyakan perempuan itu menjadi korban pembodohan dari laki-laki.

Menilik sedikit sejarah kehidupan R.A Kartini di usia 12 tahun, beliau harus menjalani hari harinya terkurung dirumah atau dikenal dengan Pingit dalam bahasa Jawa, sesuai dengan tradisi kalangan bangsawan saat itu, R.A Kartini dipaksa belajar menjadi putri bangsawan sejati yang selalu diam seperti boneka, dipaksa berbicara dengan lembut, berjalan setapak demi setapak, serta menundukkan kepala jika berbicara kepada yang lebih tua.

Berbeda dengan Putra Bangsawan pada masa itu, saudara laki-laki R.A Kartini bisa melanjutkan pendidikannya dimanapun ia inginkan, sedangkan Putri bangsawan harus menerima tradisi Pingitan

Bagi R.A Kartini Pingitan tersebut telah merampas kebahagiaannya, merampas dunia masa kecilnya, tetapi R.A Kartini berusaha mengatasi kesunyiannya dengan belajar sendiri (otodidak) meskipun beliau menilai bahwa belajar tanpa guru itu tidak terlalu banyak memberi manfaat. 

Selama 4 tahun masa pingitan R.A Kartini sebelum pingitannya dilonggarkan, beliau menyadari bahwa menangisi nasib itu tidak akan menyelesaikan masalah, yang harus dilakukan saat ini adalah berusaha dan berjuang, sehingga dalam mengatasi itu R.A Kartini mengambil buku, majalah atau surat kabar untuk dibaca selepas menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugasnya, itulah membuktikan bahwa R.A Kartini meskipun bagaimana keadaannya beliau tetap memperdulikan ilmu pengetahuan dan memperkuat literasinya.

Dalam kegemarannya membaca buku, majalah atau surat kabar membuat R.A Kartini semakin hari wawasan dan ilmu pengetahuannya tentang dunia luar semakin bertambah, membaca dan menulis adalah rutinitas yang membuat R.A Kartini terus bersemangat untuk mewujudkan impian lahirnya persamaan hak dan derajat antara laki-laki dan perempuan.

Emang sih, zaman R.A Kartini itu berbeda dengan zaman kita sekarang. Tapi setidaknya kita bisa mengambil pelajaran yang sudah dilakukan beliau bahwa mengejar Pendidikan itu sangat Penting dan mengejar cita-cita itu harus adanya. Meskipun dipaksakan untuk tetap berada dirumah kita mesti memanfaatkan waktu tersebut dengan hal-hal yang baik seperti membaca buku, memanfaatkan gedget dengan bijak, melihat berita dunia luar dan dalam negeri, membaca artikel-artikel, bukannya sibuk posting sana sini hal-hal yang tidak penting  dan memanfaatkan media sosial sebagai ajang sindir menyindir orang, yang lebih parahnya lagi menghina sesama perempuan di media sosial, yang lebih bahayanya lagi menampilkan hal-hal yang tidak baik di Tiktok yang bisa mencederai jiwa keperempuanan.

Seperti halnya perjalanan R.A Kartini dapat bermanfaat bagi rakyatnya, kita perempuan sekarang juga harus mencontoh itu, perempuan harus mampu bermanfaat bagi orang disekitarnya, peka terhadap situasi dan kondisi lingkungan, Perempuan sekarang harus lebih produktif, berinovasi, kreatif serta lebih berani untuk survive. Nah syaratnya untuk bisa bermanfaat dan berintelektual tinggi itu dengan belajar tidak ada cara lain!!


Puccadi, 21 April 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

OSAMTU: SOLUSI PENGELOLAAN SAMPAH

Oleh: Alan  "Olah sampah tuntas terpadu untuk polewali mandar. Tujuannya untuk mengubah sampah menjadi barang yang bernilai tinggi. Yang menjadi masalah adalah timbunan sampah selalu ada setiap hari, sementara tidak ada pengelolaan"  Ungkap Pakar Sampah Prof. Ir. Tejowulan. Guru Besar Universitas Mataram dan pemerhati lingkungan di Ruang Aspirasi DPRD dalam RDP, bersama Pemerintah Kab. Polewali Mandar, Anggota DPRD, Masyarakat dan Tokoh Pemuda, Selasa 29 Juni 2021. Rapat dengar pendapat ini digelar atas hasil Audiensi Anggota DPRD dan ALIANSI PEMUDA LUYO selasa, 22 Juni 2021.  Ruang rapat semakin mendalam ketika Prof Tejowulan menjelaskan lebih lanjut. Beliau mengatakan: "Penelitian mengatakan bahwa di Polman ada 33% sampah yang Terangkat sementara 67% Tidak terangkat. Akhirnya dibuang begitu saja dan bertumpuk di TPS illegal. Dalam hal ini masyarakat tidak bisa disalahkan dong"  Di jalan dekat pasar, terlambat diangkut, dibuang di pinggir jalan, menumpuk di TPS ile...

HIKMAH HALAL BI HALAL: TIDAK ADA ORANG YANG MENCINTAI ORANG LAIN

By: Alan (Tomata Bassi)  Sabar kepada orang itu gampang. Sabar kepada diri sendiri itu tidak gampang. Salah satunya adalah tidak memaksakan idenya kepada orang banyak. Seperti itulah Nabi Muhammad gaya pemipinnya. Seperti kisah Nabi dan para sahabat untuk melaksanakan ibadah haji. Tapi saat itu Ka'bah di Makkah masih dikuasai kaum musyrikin Quraisy, sangat benci Nabi. Di perjalanan, posisinya di Hudaibiyah, Nabi SAW mendapatkan kabar, kaum Quraisy Makkah menolak haji mereka. Alasannya, rombongan Nabi SAW dituduh bukan berniat haji, tetapi hendak menyerang penduduk Makkah. Nabi SAW memotong sebagian unta yang dibawa sebagai kurban. Ini sekaligus menunjukkan kepada utusan tersebut, rombongan ini tidak membawa senjata perang. Namun, kaum Quraisy tetap tidak membolehkan Nabi SAW untuk memasuki Kota Makkah. Mereka baru akan mengizinkan beliau melaksanakan haji pada tahun berikutnya. Akhirnya, Nabi SAW menerima permintaan itu. Inilah teladan Rasulullah SAW yang penuh kesabaran. Beliau m...