By: Alan (Tomata Bassi)
Sabar kepada orang itu gampang. Sabar kepada diri sendiri itu tidak gampang. Salah satunya adalah tidak memaksakan idenya kepada orang banyak. Seperti itulah Nabi Muhammad gaya pemipinnya.
Seperti kisah Nabi dan para sahabat untuk melaksanakan ibadah haji. Tapi saat itu Ka'bah di Makkah masih dikuasai kaum musyrikin Quraisy, sangat benci Nabi. Di perjalanan, posisinya di Hudaibiyah, Nabi SAW mendapatkan kabar, kaum Quraisy Makkah menolak haji mereka. Alasannya, rombongan Nabi SAW dituduh bukan berniat haji, tetapi hendak menyerang penduduk Makkah.
Nabi SAW memotong sebagian unta yang dibawa sebagai kurban. Ini sekaligus menunjukkan kepada utusan tersebut, rombongan ini tidak membawa senjata perang. Namun, kaum Quraisy tetap tidak membolehkan Nabi SAW untuk memasuki Kota Makkah. Mereka baru akan mengizinkan beliau melaksanakan haji pada tahun berikutnya. Akhirnya, Nabi SAW menerima permintaan itu.
Inilah teladan Rasulullah SAW yang penuh kesabaran. Beliau memiliki kestabilan emosi untuk tidak memaksakan kehendak meskipu dalam rangka beribadah. Demi menjaga kedamaian, beliau mengambil sikap bersahabat.
Kita lihat pemuda luar negri, meskipun kalah secara ekonomi politik, sains dan pengetahuan tapi daya tahan dan karakter pemuda Indonesia masih menang. Lihat aja Eropa dan Arab, mereka hanya memiliki sedikit suku dan agama. Indonesia lebih banyak suku, bangsa danagamanya, tapi masih tentram aman. Kita terkecoh yang selalu melihat keren pada fisiknya saja. Padahal batinnya Gersang.
Pemuda Indonesia juga termanifestasi di Pemuda Luyo dengan ajaran para leluhur kita dulu. Ada semboyang mengatakan: "Toe ayu lagi, tenna' malai dinayawai, dinyawai to dzua pai. Mi'apai mi tia rupa tau" Artinya Potongan kayu yang sudah mati pun, jika seandainya bisa diberikan nyawa untuk hidup kembali, niscaya akan kulakukan. Apatahlagi itu jika itu manusia.
Begitu dalam kajian kemanusiaan dalam luluhur Mandar. Sehingga ada teori filsafat wujud yang diterjemahkan dalam bahasa Mandar, bunyinya kayak gini: "Mesa i tia tau, rupa tau tia maiddi. Artinya Hakikat Manusia itu satu, bentuk manusianya itu yang banyak. Bukan sekedar kata folosofi, melainkan menjadi sikap perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Makanya, kita selalu dengar kata mandar "Pole Innai tau? Purai tau ummande? To innai tau, meettama i tau, seha' bandi tau? " Semua memakai diksi "Tau" Yang artinya Manusia. Pergaulan sosial selalu ada kata tau dalam berkomunikasi, inilah konsep kemanusiaan yang tinggi selalau melihat orang lain dalam hakikat kemanusiaannya.
Dalam pendekatan tasawuf, Maujudat itu banyak tapi wujud itu satu. Setiap maujudat punya ciri khas tersendiri, tapi semua bersumber dari diri yang satu itu. Ketika anda melihat alam semesta yang bermacam macam itu sumbernya dari wujud yang satu itu. Mandar menyebutnya dengan kalimat seperti ini, "Mua indani muita atauammu, jika anda tidak melihat hakikat kemanusiaanmu maka anda akan melihat Tauhid, yaitu Semua kita ini Tunggal yang bersumber dari dzat Tunggal"
Kerinduan kepada Kekasih Nabi Muhammad orang Mandar selalu melantunkan Shalawat ketika hendak berjabat tangan. Karena tajalliyat Rasulullah nampak ketika berjabat tangan dengan saudara kita. Bahkan kalau tidak pake peci, biasanya mereka menaruh tangannya di atas kepala sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain. Setiap kali Berjabat tangan diiringi shalawat, berapa kali kita bershalawat, dan berapa kali persaudaraan itu teriring dengan Shalawat atas Baginda Nabi Muhammad.
Halal bi halal artinya si halal halalan. Mengalalalkan semua perilaku buruk kepada kita dan kita kepada orang lain. Sehingga kita kembali menjadi 0 yaitu dari ampunan Allah dan maaf dari manusia. Kullu mauludin yuladu ala fitrah.
Potensi kotor dan bersih ada pada diri manusia "Wa nafsi wa ma sawwaha, fa'alahamaha fujur wa taqwaha (Dan jiwa dengan penyempurnaannya, kepadanya diberikan keburukan dan kebaikan) Qad aflaha man zakkaha, wa qaq khaba man dassaha (Beruntung orang yang menyucikannya dan merugilah yang mengotorinya)
Semua manusia, apapaun negara dan suku, agamanya selalu ada pada dirinya Kejelekan dan kebaikan. Jadi, kita harus meminta maaf. Minta maaf itu ada tiga tiga diksi disana.
Pertama Memaafkan dengan emosional, ketika ada yang meminta maaf kepadanya. Dia tidak marah, namun dia diam dan memaafkan.
Kedua, Memaafkan meskipun tidak meminta maaf. Memaafkan orang itu tidak memerlukan objek lagi. Ketika ada orang yang selalu meminta maaf, berarti dia bersifat luhur, sebab ada rasa khawatir dalam dirinya berbuat salah. Rasullullah istigfar kepada Allah padahal tidak pernah berdosa, itu bentuk kecintaan.
Begitulah ketika sang kekasih sudah dipenuhi cinta, walaupun tidak salah, tapi selalu meminta maaf kepada kekasihnya, karena ada rasa khawatir pernah lupa kepada Allah meskipun itu sedetiknya saja. Dan angkat Rasulullah adalah ketiga. Yaitu berbuat baik meskipun disakiti oleh orang.
Kisah Rasulullah keluar rumah dan melihat kotoran berseliweran di halaman rumah. Satu waktu, tidak pernah ada lagi kotoran itu. Dicari oleh Nabi, Ternyata orang itu sakit, Rasulullah malah orang pertama yang menjenguknya.
Itulah Puncak akhlak, ada pada Hakikat Cinta. Mencintai siapapun meskipun melukai dan menginjak-injak harga dirinya cinta tetap cinta. Kebencian tidak akan mampu mengubah Essensi cinta.
Terakhir, Kisah Ibnu Sina. Sang Putri Raja sudah lama sakit, sudah banyak dokter datang tapi gagal menyembuhkan. Maka Raja tersebut memanggil Ibnu Sina. Penyakitnya dan putri bukan penyakit biasa. Ibnu Sina bertanya "Siapa laki-laki yang menghafal nama-nama Kampung? Lalu datanglah satu orang lengkap dengan peta. Lalu diletakkan tangannya diatasnya. Disebutkan mulai dari negara, Provinsi sampai ke kabupaten, belum ada reaksi, disebutkan nama kecamatan, sampai desa sampai dusun, Rt Rw nya.
Belum ada respon. Tiba-tiba sang putri Spontan terbangun, ketika disebut nama salah seorang pemuda di satu kampung itu. Itulah cinta yang berefek sakit. Ketika memendam rindu. Itulah mengapa, nama lain dari cinta adalah Isyq sebuah parasit yang bertengger di pohon. Perlahan marasuk dan merusak pohonnya.
Hakikatnya kita belum sampai pada level Mahabbah. Tidak ada orang yang mencintai orang lain. Kita hanya membuat kriteria untuk dilekatkan kepada perempuan yang sesuai dengan keinginanya. Jadi kita mencintai kriteria itu, bukan sosok perempuan itu.
Mahabbah, kepada siapapun kau akan memberikan terbaik. Bahkan kepada orang kafir sekalipun atau yang berbuat jahat kepadamu, selalu kita balas berbuat baik. Sebab Bukan orangnya lagi yang ada, tapi Allah yang menciptakan orang itu.
Mari jaga tiga persaudaraan itu,
1. Ukhuwah islamiyah
2. Ukhuwah Basyariyah (insaniyah)
3. Ukhuwah Wathaniyah
"Assitallian luyo adalah wujud dari tiga ukhuwah ini" Kajian yang ini lebih dalam lagi dong.
Wallahu A'lam

Komentar
Posting Komentar