Oleh: Alan
"Olah sampah tuntas terpadu untuk polewali mandar. Tujuannya untuk mengubah sampah menjadi barang yang bernilai tinggi. Yang menjadi masalah adalah timbunan sampah selalu ada setiap hari, sementara tidak ada pengelolaan"
Ungkap Pakar Sampah Prof. Ir. Tejowulan. Guru Besar Universitas Mataram dan pemerhati lingkungan di Ruang Aspirasi DPRD dalam RDP, bersama Pemerintah Kab. Polewali Mandar, Anggota DPRD, Masyarakat dan Tokoh Pemuda, Selasa 29 Juni 2021. Rapat dengar pendapat ini digelar atas hasil Audiensi Anggota DPRD dan ALIANSI PEMUDA LUYO selasa, 22 Juni 2021.
Ruang rapat semakin mendalam ketika Prof Tejowulan menjelaskan lebih lanjut. Beliau mengatakan: "Penelitian mengatakan bahwa di Polman ada 33% sampah yang Terangkat sementara 67% Tidak terangkat. Akhirnya dibuang begitu saja dan bertumpuk di TPS illegal. Dalam hal ini masyarakat tidak bisa disalahkan dong"
Di jalan dekat pasar, terlambat diangkut, dibuang di pinggir jalan, menumpuk di TPS ilegal. samping toko. Di rumah sakit, container rusak dan itu mahal harganya. Ada juga beberapa sampah bertumpuk di bak sampah, upaya ini sudah bagus namun harus tindak lanjut setelahnya. Hanya 30% bisa begitu. Tapi jika dibiarkan akan meluber kemana-mana juga. Akhirnya keluar dari container, sementara semua warga paati menolak jika ditempatkan didepan rumah mereka. TPS3R dan bank sampah tidak mampu menampung dan akhirnya berakhir Di TPA.
Temuan temuan lainnya, sampah di polman kebanyakan dibuang di pinggir jalan, pinggir sungai, muara dan pantai seperti palippis banyak kain bekas disana. Padahal kalau sudah sampai ke Sungai, muara dan pantai, pasti mencemari laut. Karena sampahnya kengendap di pedalaman laut dan tidak mengambang.
Lalu solusinya gimana?
Selama ini System lama kita pake yaitu Kumpul-angkut-Timbun. Padahal banyak cara untuk merubah sampai menjadi hal hal yang produktif. Yaitu dengan cara Pembakaran dengan Tungku.
Baiklah, lebih tekhnis lagi. Kelemahan Sanitary Landfill terbukti tidak menyelesaikan masalah. Tidak efektif, tidak efisien dan mahalmahal serta tidak ramah lingkungan. Sementara desa dianggap tidak menghasilkan sampah sehingga tidak disediakan layanan sampah di desa. Akhirnya masyarakat membuang sampah sembarangan.
Lalu bagaiamana? Mari amati sistem OSAMTU (Olah sampah Tuntas) yaitu sistem pengolahan sampah plus teknologi tungku. Ada 7 Prinsip Osamtu:
1. Mencegah permasalahan sampah baru (Prinsip Preventif)
2. Pengelolaan sampah sedekat mungkin dengan sumber sampah (Prinsip Thematic)
3. Meningkatkan partisipatif masyarakat (Prinsip Partisipatif)
4. Optimalisasi Prinsip 3R (Prinsip Terpadu)
5. Mengelola sampah sampai tuntas (Prinsip Tuntas)
6. Umur Tungku puluhan tahun (Prinsip berkelanjutan)
7. Minimal Tidak ada asap (Prinsip Ramah Lingkungan)
Osamtu memanfaatkan alam untuk mendukung sistem operasinya. Seperti sampah itu mengandung energi panas potensial, logam punya daya serap panaspanas dan daya bakar. Udara panas bersifat ringan, tidak ada ruang hampa di muka bumi. Udara bergerak mengisi ruang. Benda padat berubah menjadi uap, uap berubah menjadi cair dan ikatan Van der WallWall, adesi kohesi, dan elektrostatik yang memicu precipitasi.
Akhirnya Waste to Product material, energy and service, mengubah sampah menjadi produk bahan baku, energi dan jasa. Sampah menjadi Product yang menghasilkan batako, paving block, plakat, pot, pupuk, pakan ternak, campuran aspal dan material pengisi.
Sampah menjadi bahan baku menghasilkan kerajinan tangan, tekstil dan Fiber. Sampah menjadi energi menghasilkan bahan bakar, RDF dan biogas. Sampah menjadi jasa bisa menghasilkan sauna, kolam air panas belerang, pantai pelangi dan edu wisata.
Hasil akhir pembakaran sampah dalam material abu. Berupa material hasil pembakaran, rongsokan besi, arang, pecahan beling, batu kerikil, pupuk anu mineral, sisa sampah yang dibakar kembali.
Kelebihan OSAMTU dibanding SANITARY LANDFILL dan INCINERATOR, lihat tabel berikut:
Finacial Project, soal pembiayaannya pada tabel berikut:



Komentar
Posting Komentar